Mata-publiknusantara.com, Limapuluh Kota, Di tengah maraknya kebakaran hutan di Kabupaten Lima Puluh Kota, para pengrajin resam, bambu, dan mansiang terus berjuang mempertahankan kearifan lokal yang semakin terpinggirkan. Padahal, kerajinan berbahan dasar tumbuhan hutan ini tak hanya menyimpan nilai seni tinggi, tetapi juga berperan penting dalam mengurangi risiko kebakaran.
Resam — tumbuhan pakis yang tumbuh lebat di perbukitan — dikenal sebagai salah satu penyebab cepat meluasnya api ketika musim kemarau tiba. Namun di tangan para pengrajin muda, seperti Fajri, resam diubah menjadi gelang, tas, dan pernak-pernik bernilai jual.
“Setiap batang resam yang dianyam adalah satu batang yang tidak lagi menjadi bahan bakar kebakaran,” ujarnya.
Sayangnya, perhatian terhadap para pengrajin masih minim. Hasil kerja berhari-hari kerap dihargai murah, jauh dari layak.
“Kami ingin ada generasi baru yang mau mewarisi keterampilan ini, bukan meninggalkannya,” kata salah seorang pengrajin senior.
Koperasi Samara Enterprise Mamburesa kini hadir untuk menghimpun para pengrajin dan membuka pasar baru, baik lokal maupun nasional. Inisiatif ini diharapkan mampu mengangkat martabat kerajinan hutan 50 Kota sekaligus menjaga kelestarian alam.
“Kerajinan ini bukan hanya soal ekonomi, tapi soal ekologi. Menjaga hutan berarti menjaga kehidupan,” ujar pimpinan Koperasi Samara Enterprise Mamburesa dalam keterangan tertulis.
“Kami berharap dukungan dari pemerintah, swasta, dan masyarakat agar kerajinan ini menjadi kebanggaan nusantara.”
Dengan maraknya kebakaran hutan belakangan ini, suara para pengrajin menjadi semakin relevan. Mereka bukan hanya pengrajin, tapi juga penjaga hutan melalui cara yang sunyi — mengubah tumbuhan liar berbahaya menjadi karya yang bermanfaat.
Harapan mereka sederhana: agar kerajinan hutan dari Kabupaten Lima Puluh Kota berdiri tegak di panggung nasional, memberi penghidupan layak bagi pengrajin, sekaligus melindungi hutan dari ancaman api.














