MataPublikNusantara.com, Limapuluh Kota – Wilayah Kabupaten Lima Puluh Kota dengan area seluas 3.354,30 km2 (1,295,10 sq mi). Sementara terdapat pula seluas 7.207 Ha, di tahun 2018/2019 Tanaman pangan seperti jagung, yang merupakan demplot dari berbagai wilayah di kabupaten 50 kota.
Yang menghasilkan sebanyak 39.627 Ton di tahun 2018 dan 42 132.90 Ton, Di tahun 2019.
Dalam rangka pelaksanaan intensifikasi jagung tahun 2024 memperkenalkan teknologi baru bagi petani dalam budidaya jagung berupa peragaan alat panen dan ekspos pelaksanaan demplot Budi daya jagung.
Acara panen raya jagung dan uji coba alat panen jagung (Combine Harvester) berlangsung di daerah Gaduik kecamatan Lareh Sago Halaban tepatnya di Puri Tizana. Dihadiri Kepala Dinas Pertanian Witra Porsepwandi, S.Pi Kabupaten Lima Puluh Kota, Saga Putra. Serta anggota kelompok tani wilayah Lareh Sago Halaban.
Bupati Safaruddin mengatakan saat meninjau hasil panen dari uji coba di daerah Gaduik kecamatan lareh Sago Halaban ini dapat menjadi contoh bagi semua wilayah kabupaten Lima Puluh Kota kedepannya.
Setelah adanya program intensifikasi jagung ini, semoga perubahan besar pada taraf hidup di Lima Puluh Kota meningkat dalam bidang pertanian terutama komoditi jagung pada 2025 nantinya.
Lebih lanjut dengan adanya pengolahan lahan jagung di Puri Tizana, tersebut juga dapat meningkatkan pemberdayaan masyarakat dan meningkatkan pendapatan petani.
Setelah kedatangan Bupati Limapuluh Kota Safaruddin Dt Bandaro Rajo kali ini menjadi program besar untuk memberdayakan masyarakat di Lareh Sago Halaban untuk meningkatkan pendapatan. Dengan peningkatan produksi pada tanaman jagung ini membuat satu langkah besar bagi kabupaten Lima Puluh Kota sehingga menjadi sumber yang luar biasa bagi kehidupan petani.
“Kita akan mengajak seluruh wilayah yang tanahnya cocok untuk penanaman lahan jagung di kabupaten Lima Puluh kota. Agar hasil pertanian jagung kita lebih meningkat dari biasanya,” akhir bupati.
Tanaman jagung ini kata Gusnedi Caguik, selain sebagai komoditi pertanian yang cukup bagus di musim kemarau, juga sebagai pemutus mata rantai makanan hama coklat yang menyerang pada tanaman padi.
Jagung menjadi salah satu komoditas pangan strategis setelah padi (beras). Sejak beberapa tahun terakhir produksi jagung mengalami surplus, sehingga berpeluang dan akan berkembang di Lima Puluh kota.
Berbagai kalangan pelaku agribisnis jagung menilai peluang budi daya jagung cukup terbuka. Selama ini pihak pelaku usaha pakan ternak hanya menjadi konsumen dari pasokan luar daerah.
“Semoga kabupaten Lima Puluh Kota ini sesuai dengan arahan pemerintah dimana lahan tidur di sulap menjadi produktif dan mandiri dalam komoditas jagung”, pungkas Gusnedi Caguik
















